Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Selasa, 05 Juli 2011

Berkerja di luar (negeri/kota), bukan karena di dalam (negeri/kota) tidak ada pekerjaan

Mumpung lagi hangat-hangatnya berita mengenai TKI yang bekerja di luar negeri, tak mau ketinggalan saya juga ingin membahas masalah tersebut melalui tulisan ini. Mikir...Mikir... kira-kira judul apa ya... yang pas untuk saya kembangkan menjadi sebuah karya tulis. Agak bingung untuk mencari sudut pandang yang akan saya kemukakan, sebelum mulai memilih judul ini, saya pastikan untuk browsing di internet agar bisa memperkaya pengetahuan saya sekaligus bisa mengutarakan tulisan yang pas dan bermanfaat bagi khalayak pembaca. Situs pertama yang saya tuju adalah www.kompas.com ada sebuah berita yang menjadi topik pilihan berjudul Hasyim Muzadi: "Jangan Atasi Soal TKI dengan Tim Ecek-ecek", menyoal kasus "TKI dipancung di Arab". Kemudian saya lanjutkan membaca sekilas berbagai berita pada website tersebut berkaitan dengan TKI yang kebanyakan menggambarkan pengalaman buruk TKI di luar negeri.

Untuk menemukan sudut pandang yang lain, saya putuskan untuk mencari berita dengan bantuan mesin pencari google dengan kata kunci "TKI berprestasi" dan "TKI sukses". Salah satu judul yang saya temukan adalah "TKI Berhasil Wisuda di Open University of Malaysia". Sarmini, TKW yang berhasil diwisuda di Open University of Malaysia dalam bidang manajemen dengan dukungan penuh majikannya yang merupakan dosen di sebuah kampus swasta.

Akhirnya saya putuskan untuk merangkai judul "Bekerja di luar (negeri/kota), bukan karena di dalam (negeri/kota) tidak ada pekerjaan". Hal ini saya kaitkan dengan pengalaman pribadi saya ketika harus bekerja di luar kota, padahal saya punya berbagai pemikiran tentang berwirausaha di rumah. Mungkin tergolong pemikiran yang sempit jika saya membatasi kerja sebatas lingkup di kota sendiri, tetapi batasan tersebut saya maksudkan untuk mengembangkan potensi ekonomi yang dimiliki sendiri. Contoh; latar belakang Bapak saya seorang penjahit, ibu saya pandai memasak, hal ini mendorong hasrat terdalam saya untuk memajukan usaha di kedua bidang tersebut. Meskipun untuk saat ini tergolong bonek "bondo nekat", saya yakin suatu saat InsyaAllah bisa terwujud. Sesekali memang diperlukan untuk ke luar kota/ ke luar negeri, memperluas pengetahuan sekaligus menemukan inspirasi baru.

Alasan utama yang mendorong TKI bekerja di luar negeri yaitu berkaitan dengan masalah keuangan. Nilai mata uang Indonesia yang rendah dibanding negara-negara lain sehingga pendapatan TKI dengan pekerjaan sebagai Pembantu Rumah Tangga di luar negeri seperti Hongkong, Arab Saudi, Malaysia, mungkin setara dengan kepala bidang perusahaan lokal. Pekerjaan sebagai Pembantu Rumah Tangga umumnya merupakan kegiatan rutinitas sebagian besar ibu rumah tangga, antara lain: memasak, memcuci piring/pakaian, mengasuh anak dan lain-lain. Kesimpulannya, bekerja di luar, bukan karena di dalam tidak ada pekerjaan, tapi karena bekerja di dalam belum mampu menghasilkan nilai tambah, terutama berkaitan dengan materi/uang.

Sebuah harapan ideal saya adalah, bekerja dan belajar di luar kota ataupun luar negeri agar suatu kelak bisa membangun kota atau negeri sendiri.

Tidak ada komentar: