Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Sabtu, 29 November 2008

“Paralayang”, olahraga yang menantang para petualang

Kehidupan seseorang seringkali membutuhkan sebuah sensasi. Beberapa hal yang mungkin sangat sulit untuk didapatkan atau dinikmati kalangan pada umumnya, merupakan hal yang biasa serta dengan mudahnya didapatkan oleh kalangan tertentu. Sebut saja Orang Kaya, hanya dengan merogoh beberapa kocek berbagai fasilitaspun akan tersedia. Beberapa kocek yang tersedia seakan tak ada habisnya. Kalau hari ini keluar beberapa rupiah, hari itu juga sudah masuk berupiah-rupiah, belum lagi hari-hari sebelumnya ataupun dikemudian harinya. Singkat kata singkat cerita, orang yang seperti “pepatah” menyebutkan: “besar tiang daripada pasak” atau pemasukan lebih besar daripada pengeluarannya, pada beberapa hal dirasa baginya hidup ini membosankan. Petualangan yang dialami oleh orang pada umumnya demi memperoleh beberapa suap nasi ataupun kehidupan layak, rasanya kurang dirasa oleh orang-orang berkantong tebal. Maka dari itu, kebutuhan untuk “merasakan sensasi kehidupan” bagi sedikit orang disalurkannya melalui beberapa aktivitas yang menantang. Pernah suatu ketika saya mendengar informasi mengenai alasan turis berwisata di Indonesia, salah satunya karena sebagian dari mereka merupakan “pensiunan” di daerah asal yang kemudian ingin menikmati perantauan menikmati wisata alam. Pada turis luar negeri yang sudah cukup berusia, mereka telah bekerja cukup lama dan hampir pasti kebutuhan untuk sandaran hidupnya sehari-hari sudah tercukupi. Naluri untuk berpetualang merasakan sensasi lain dari kehidupan ini, mereka turuti dengan sepenuh hati.

Paralayang merupakan salah satu aktivitas yang menantang. Olahraga ini termasuk salah satu olahraga yang berbiaya tinggi, dengan resiko yang tinggi pula. Pada suatu ketika tepatnya Kamis, akhir Juli 2008 saya berkesempatan untuk melihat festival paralayang Internasional di Gunung Banyak Kota Batu. Alih-alih menunggu dilaksanakannya Diklat Radio KKN UM di desa Pandesari, kesempatan yang langkah itu menambah wawasan dan pengetahuan saya. Suasana pada tempat landasan terbang berlangsungnya paralayang tersebut begitu mendebarkan. Peserta yang berasal dari berbagai negara seperti: Malaysia, Philippine dan Timur Tengah satu persatu tengah bersiap untuk meluncur dengan berbagai perlengkapan terjun payung yang mereka siapkan. Beberapa petugas tak ketinggalan membantu penerjun yang akan meluncur, koordinasipun kerap kali dilakukan antar petugas baik yang bersiap untuk menerjunkan peserta maupun yang berada di landasan pendaratan. Adakalanya suasana berubah menjadi canda tawa, kata-kata kegundahan yang terlontar dari penerjun Luar Negeri serta kerabatnya ketika menyaksikan penerjun lain yang meluncur dirasa asing dan unik bagi kita yang kebanyakan orang Indonesia. Saling sahut menyahut dengan bahasa yang berlainan seakan saling mengerti karena terfokus pada obyek pembicaraan yang sama. Suasana lebih tegang datang tiba-tiba ketika melihat penerjung yang kurang berhasil mengibarkan parasutnya, tetapi kemudian berhasil juga. Penonton menjadi legah, terutama penerjun itu sendiri. Mungkin materi atau penghargaan yang didapat kurang sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan peserta paralayang, mencari sensasi dan beradu nyalilah tujuan utama mereka.

3 komentar:

Unknown mengatakan...

Sowry bos baru kasih komen, lagi sibuk di dunia nyata jadi ga sempat nengok dunia maya. Bagi2 ilmu tentang blog layout dong bos. Kamu nyari layout dimana n cara nambahin gadget2 yang keren. Thanks

Anonim mengatakan...

jhon, d sbya mna u? hub gw d 085649397564

Bagus Hermawan mengatakan...

mantep ni kayaknya, pengen nyobain,,tapi gak berani ui, kalau ke sana mesti cuma liat aja,,